• Selamat Datang di Komunitas

    bergabunglah bersama jaringan dan kegiatan pelayanan kami. kami adalah gabungan pemuda dan remaja kristen yang ada di pulau Bali daerah Denpasar dan sekitarnya

  • Temukanku Menunggumu

    siapasih yang tidak kenal dengan sosok anjing hachiko, yang selalu menantikan tuannya hingga akhir hayatnya

  • Gabung di Fanbook Komunitas

    ayo.. gabung di fanbook komunitas berbagii cerita dan informasi KKR

  • Keluarga Merupakan Kebaikan Tuhan

    Ingatlah bahwa keluargamu sangat menyanyangimu dan mengajarkan hal yang baik kepadamu

  • Temukan Teman

    Komunitas ini adalah perkumpulan pemuda dan remaja dari berbagai background yang berbeda - beda, jadi siapakah dirimu ? mari bergabunglah

  • Bantuan dan Konseling Doa

    jika kamu semua meraskan gelisah butuh support jangan malu silahkan hubungi atau sms langsung untuk bantuan doa ke 085314151617

Posted by Gusti Dyanank
| 02.08


"Mengapa ketika Aku datang tidak ada orang, dan ketika aku memanggil tidak ada yang menjawab?

Mungkinkah tanganku terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan padaKu untuk melepaskan? ....."
(Yesaya 50:2)

Manusia sering enggan untuk menanti. Apalagi ketika menanti jawaban dari Tuhan yang tak kunjung datang. Sampai Tuhan menyatakan isi hatiNya melalui Yesaya, "Mengapa ketika Aku datang tidak ada orang?" 
Tuhan tidak menemukan seseorang yang menantikanNya dengan setia.
Bicara tentang penantian, nggak bisa nggak, saya harus kutip kisah kesaksian di bawah ini. Saya percaya kita semua (termasuk saya) bisa belajar banyak dari kisah ini.


AN ENDLESS WAITING
This is a true story in Japan.
Hachikō adalah seekor anjing yang setia menantikan tuannya. Kisah penantian ini sangat mengharukan banyak orang khususnya masyarakat Jepang. Terinspirasi dari kisahnya maka dibuatlah sebuah patung untuk mengenang kesetiaan Hachikō di depan Stasiun Shibuya, Tokyo.


Tempat ini pun menjadi segera menjadi meeting point yang penting, juga menjadi tempat para pasangan bertemu di Shibuya. Seolah-olah pasangan ini ingin menyatakan bahwa mereka juga akan setia seperti Hachikō yang setia.


Pertama kali saya membaca kisah ini beberapa tahun yang lalu di sebuah koran ibu kota, dan sanggup mengharukan hati dan membasahi mata saya. Kemudian saya lupa dengan kisah ini sampai seseorang sahabat memforward kisah ini kembali kira-kira sebulan yang lalu. Dan anehnya walau sudah pernah membacanya, hati saya tetap terharu (bahkan saat menulis artikel ini, hati saya masih tersentuh). Sambil bingung, kok setelah bertahun-tahun, ceritanya beredar kembali yah? Ternyata hal ini penyebabnya.



HACHIKO STOLEN
Dimuat sebagai berita di Japan Times, 31 Maret 2007, tentu saja menggoncangkan banyak orang. It makes an international outcry!
Kisah pencurian ini dengan sangat meyakinkan dimuat di sebuah koran Jepang, dan ada photo yang menggambarkan 2 orang wanita di depan patung yang hanya tinggal fondasinya saja. Ternyata selidik punya selidik, kisah ini hanyalah sebuah April Fool (kita mengenalnya sebagai April Mop). Berita bohong yang biasanya didengungkan tanggal 1 April.

Ada yang berusaha mengconfirm, sehabis membaca berita tsb, ia segera bergegas ke Shibuya dengan hati sedih dan galau. Dan ia pun lega karena ternyata patung Hachikō masih ada di tempatnya. Kelak terbukti bahwa photo di koran juga hasil editan dengan program photoshop.
Reaksi masyarakat? Jelas marah dong.
Bahkan ada yang berkata, "How could you do that? Kisah kesetiaan anjing ini sepertinya tidak layak untuk dipermainkan." Tapi ada juga orang yang walaupun sangat kesal tapi masih dapat melihat sisi positifnya dengan berkata, "walaupun kesal dengan berita bohong itu, tapi paling nggak saya jadi diremind lagi dengan kisah kesetiaan Hachikō."
Seperti apa sih ceritanya? Saya akan menceritakannya kembali kepada teman-teman, hasil saduran dari berbagai sumber.



Seekor anjing lahir tanggal 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, anjing jenis Akita Inu. Anjing ini kemudian dipungut dan menjadi milik keluarga Ueno. Profesor Ueno sangat mencintai anjing kecil ini dan menamainya Hachi, sebuah kata Jepang yang berarti 'angka 8’, yang merepresentasikangood fortune, comfort and confidence.

Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo, waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelumnya pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang.

Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.
Dan sebelum berpisah biasanya Prof Ueno akan menepuk-nepuk dan membelai dengan lembut kepala Hachi, dan berjanji bahwa ia akan kembali sore harinya. Dan pada sore harinya Hachi akan kembali ke stasiun menantikan tuannya kembali, dan bersama-sama berjalan kembali ke rumah.

Kebiasaan itu berjalan selama 16 bulan, sampai suatu ketika terjadi hal yang tidak biasa.....

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia karena serangan stroke yang fatal. Dan atas keputusan keluarga, jenazahnya tidak dibawa ke Tokyo, tetapi langsung dibawa ke kampung halamannya untuk dimakamkan di sana. 
Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, dilakukan upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) pada malam hari 25 Mei 1925, dan Hachi masih tetap tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal.
Ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya. Dan ternyata tuannya tetap tidak kunjung kembali.

Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Mulai saat itu Hachi pun berpindah-pindah kepemilikan. Tapi ternyata tidak ada yang menyayanginya seperti Profesor Ueno. Hachi tidak pernah menemukan kasih yang mampu menggantikan kasih Profesor Ueno.
Itu mungkin yang menjadi penyebab mengapa Hachi tidak dapat melupakan majikannya.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi (yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno). Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya. Dan anjing setia ini sering mendapat perlakuan kasar di stasiun tsb.

Pada sore hari, kereta api sudah memasuki stasiun, dan penumpang satu persatu mulai turun, tetapi sampai penumpang terakhir meninggalkan stasiun, Profesor Ueno tetap tidak muncul. Hachi yang tidak pernah tahu bahwa tuannya sudah tidak berada di muka bumi ini lagi, tetap menanti dengan setia. Setiap hari, dari pagi sampai malam hari, sampai kereta terakhir meninggalkan stasiun, Hachi setia menunggu.
Menemukan kenyataan bahwa ternyata tuannya belum kembali juga pada hari itu, dengan lunglai ia meninggalkan stasiun, dan siap untuk datang keesokan harinya lagi.

Tidak jelas kemana Hachi pergi setelah keluar dari stasiun, tapi keesokan harinya Hachi mengejutkan banyak orang ketika ia muncul di pagi hari pada jam yang sama Prof Ueno berangkat kerja. Kembali, Hachi menanti seharian sampai kereta terakhir meninggalkan stasiun di malam harinya.


Akhirnya setiap pengguna kereta api di Shibuya mulai mengetahui kisah penantian Hachi. Mereka tahu bahwa penantian Hachi adalah penantian yang sia-sia, tetapi banyak orang yang mulai tersentuh dengan kesetiaan dan pengharapannya, serta rasa hormat kepada majikannya.


Selama 7 tahun kisah Hachi menunggu majikan di stasiun ini mulai beredar dari mulut ke mulut, sampai pada tahun 1932, sampai kepada penulis Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang.

Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis beberapa artikel tentang kisah sedih Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judulItoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Juga ada artikel dengan judul "A Faithful Dog Awaits Return of Master Dead for Seven Years".




Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikannya. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya.




Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō.
Diprakarsai oleh Andō, diselenggarakanlah acara pengumpulan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar 3.000 (wow!!!) penonton hadir untuk melihat Hachikō.


Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikōbersama sekitar 300 hadirin.
Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.



Kehidupannya yang mulai berubah, (tidak seperti dulu lagi selalu mendapat perlakuan kasar), tidak membuat Hachi melupakan tuannya. Walau kini ia disayangi banyak orang, Hachi tetap setia menanti di stasiun Shibuya.



AKHIR SEBUAH PENANTIAN
8 Maret 1935, Hachi ditemukan sudah tidak bernyawa setelah 10 tahun dalam penantian. Berita kematiaanya segera menyebar, dan Hachi diberikan upacara pemakaman layaknya seorang manusia dengan ritual Budha yang berlangsung selama
49 hari (!!!).





Dan nama Hachi secara resmi diubah menjadi Hachikō(akhiran 'kō' dalam kebudayaan Jepang, adalah sama seperti 'sir’ di Inggris).

Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.







Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō yang kedua didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate, tepatnya di di depanStasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah "On o wasureruna
(Balas Budi Jangan Dilupakan)".






Tidak panjang pengalaman Hachi berjalan bersama tuannya.
Tapi pengalaman yang hanya 16 bulan ini, mampu membuat Hachi bertahan dalam penantian selama 10 tahun. Bahkan sampai matipun, ia mati dalam penantian. Suka ataupun duka yang dialaminya tidak mengubahkan kesetiaanya. Perlakuan kasar yang diterimanya di stasiun Shibuya, tidak mampu memudarkan semangat penantiannya. Bahkan ketika tiba-tiba semua orang berbalik menyayanginya (bahkan ada yang take advantage darinya), 
ia tidak pernah melupakan tuannya. Tujuan hidupnya adalah bertemu dengan tuannya.
Menanti sampai akhir.

Saya percaya kita diberkati dengan kisah ini.
Penantian abadi yang datang dari seekor anjing.
Seharusnya kita, manusia, yang punya harkat jauh lebih tinggi, mampu memberikan penantian lebih dari Hachikō.

Ya Tuhan...temukanku menantikanMu...
(to be continued)

lanjutan ke part 2


All blessings,

Julita Manik 

Konseler

Translate


Sms : 081339602603  
Contact : 0361 7474044 
Jln. Padang Luwih, Dalung
Kuta Utara, Badung Bali